Abad ke-21 dimulai dari tahun 2001, karena
hitungan tahun semenjak ditemukannya kalender masehi, awal pada awal mula
ditemukannya tahun seharusnya ada pada tahun nol, dan ulang tahun pertama
harusnya ada pada tahun 1, makanya masuk tahun 2001 disebut sebagai abad ke –
21. Dengan demikian tahun 2018 ini sudah merupakan dasawarsa ke-2 pada abad ke
– 21; karena dasawarsa ke-1 sudah berlalu, yakni 2000 – 2009. Abad ke – 21 ini
disebut dengan milenium ke-3 kalender Gregorian.
Filosofis yang dianut dalam abad ke – 21 ini
adalah postmodernisme, globalisasi, pragmatisme, progersivisme, dan
idealisme.
Teoritisnya yang ada dalam pelaksanaan pendidikan di
abad ke – 21 ini adalah teori pembelajaran kognitivisme, humanistik dan teori
belajar Ausubel. Teori kognitivisme menyatakan bahwa pengetahuan itu
berasal dari stimulus dan respons tetapi dipengaruhi oleh pengetahuan yang
dimilikinya. Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam
memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran
apapun dan dalam konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk
mencapai tujuannya. Teori belajar Ausubel yakni berupa meaningful
learning. Menurut Ausubel faktor yang paling penting mempengaruhi
siswa belajar adalah apa yang telah diketahui oleh siswa.
Praksisnya adalah Kurikulum 2006 (Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan), UU No. 30 tahun 2003 tentang
Sisdiknas, dan Kurikulum 2013,.
Praktisnya adalah maraknya sekolah berbasis
keterampilan dan pembelajaran berbasis teknologi.
Paradigma Pendidikan Sains
Abad 21
Sebagai bangsa yang mempunyai harga diri dan
yang telah mengacungkan unggulan berbudaya tidak dapat menutup mata serta
telinga, berdiam diri, acuh terhadap daya guna pembaharuan ilmu dan pemanfaatan
ilmu pengetahuan serta teknologi untuk kebaikan umat manusia. Kebangunan dan
citra bangsa baru akan terlihat jika kita ikut berlomba dalam peradaban dengan
menyumbangkan karya, pikiran dan keagungan pikir dalam tatanan dunia yang baru.
Usaha kita itu terutama untuk kepentingan dan keselarasan pembangunan bangsa
menghadapi ekonomi dan sosial yang sadar-pengetahuan, dan penciptaan manusia
berkapasitas pemecah soal. Kita ikut mengisi khazanah ilmu pengetahuan teoretis
maupun terapan sambil memancarkan wawasan dan kemitraan yang murni.
Dengan demikian paradigma
pendidikan sains abad 21 dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Untuk menghadapi abad 21 yang makin syarat dengan teknologi dan sains dalam
masyarakat global di dunia ini, maka pendidikan kita haruslah berorientasi pada
ilmu pengetahuan matematika dan sains alam disertai dengan sains sosial dan
kemanusiaan (humaniora) dengan keseimbangan yang wajar.
2.
Pendidikan ilmu pengetahuan, bukan hanya membuat seorang peserta didik
berpengetahuan, melainkan juga menganut sikap kelilmuan dan terhadap ilmu
pengetahuan, yaitu kritis, logis, inventif dan inovatif, serta konsisten, namun
disertai pula dengan kemampuan beradaptasi. Di samping memberikan ilmu
pengetahuan, pendidikan ini harus disertai dengan menanamkan nilai-nilai luhur
dan menumbuh kembangkan sikap terpuji untuk hidup dalam masyarakat yang
sejahtera dan bahagia di lingkup nasional maupun dilingkup antarbangsa dengan
saling menghormati dan saling dihormati.
3.
Untuk mencapai ini mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar,
menengah dan pendidikan tinggi haruslah merupakan suatu sistem yang tersambung
erat tanpa celah, setiap jenjang menunjang penuh jenjang berikutnya, menuju ke
frontierilmu. Namun demikian, penting pula pada akhir setiap jenjang, di
samping jenjang untuk ke pendidikan berikutnya, terbuka pula jenjang untuk
langsung terjun ke masyarakat.
4.
Bagaimanapun juga, pada setiap jenjang pendidikan perlu ditanamkan jiwa
kemandirian, karena kemandirian pribadi mendasari kemandirian bangsa,
kemandirian dalam melakukan kerjasama yang saling menghargai dan menghormati,
untuk kepentingan bangsa.
5.
Khusus di perguruan tinggi, dalam menghadapi konvergensi berbagai bidang
ilmu pengetahuan, maka perlu dihindarkan spesialisasi yang terlalu awal dan
terlalu tajam.
6.
Dalam pelaksanaan pendidikan perlu diperhatikan kebhinnekaan etnis, budaya,
agama dan sosial, terutama di jenjang pendidikan awal. Namun demikian,
pelaksanaan pendidikan yang berbeda ini diarahkan menuju ke satu pola
pendidikan nasional yang bermutu.
7.
Untuk memungkinkan seluruh warganegara mengenyam pendidikan sampai ke
jenjang pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya, pada dasarnya pendidikan
harus dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat dengan mengikuti kebijakan
yang ditetapkan oleh pemerintah (pusat dan daerah).
8.
Untuk menjamin terlaksananya pendidikan yang berkualitas, sistem monitoring
yang benar dan evaluasi yang berkesinambungan perludikembangkan dan
dilaksanakan dengan konsisten. Lembaga pendidikan yang tudak menunjukkan
kinerja yang baik harus dihentikan.
Berdasarkan “21stCentury Partnership
Learning Framework”, terdapat beberapa kompetensi dan/atau keahlian yang
harus dimiliki oleh SDM abad 21, yaitu:
1.
Kemampaun berpikir kritis dan pemecahan masalah (Critical-Thinking and
Problem-Solving Skills)– mampu berfikir secara kritis, lateral, dan sistemik,
terutama dalam konteks pemecahan masalah
2.
Kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama (Communication and Collaboration
Skills) – mampu berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan berbagai
pihak
3.
Kemampaun berpikir kritis dan pemecahan masalah (Critical-Thinking and
Problem-Solving Skills)– mampu berfikir secara kritis, lateral, dan sistemik,
terutama dalam konteks pemecahan masalah
4.
Kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama (Communication and Collaboration
Skills) – mampu berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan berbagai
pihak
5.
Kemampuan mencipta dan membaharui (Creativity and Innovation Skills) –
mampu mengembangkan kreativitas yang dimilikinya untuk menghasilkan berbagai
terobosan yang inovatif
6.
Literasi teknologi informasi dan komunikasi (Information and ommunications
Technology Literacy) – mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
untuk meningkatkan kinerja dan aktivitassehari-hari
7.
Kemampuan belajar kontekstual (Contextual Learning Skills) – mampu
menjalani aktivitas pembelajaran mandiri yang kontekstual sebagai bagian dari
pengembangan pribadi
8.
Kemampuan informasi dan literasi media (Information and Media Literacy
Skills) – mampu memahami dan menggunakan berbagai media komunikasi untuk menyampaikan
beragam gagasan dan melaksanakan aktivitas kolaborasi serta interaksi dengan
beragam pihak.
Di samping itu didefinisikan
pula sejumlah aspek berbasis karakter dan perilaku yang dibutuhkan manusia abad
21, yaitu:
1.
Leadership– sikap dan kemampuan untuk menjadi pemimpin dan menjadi yang
terdepan dalam berinisiatif demi menghasilkan berbagai terobosan-terobosan
2.
Personal Responsibility– sikap bertanggung jawab terhadap seluruh perbuatan
yang dilakukan sebagai seorang individu mandiri
3.
Ethics– menghargai dan menjunjung tinggi pelaksanaan etika dalam
menjalankan kehidupan sosial bersama
4.
People Skills– memiliki sejumlah keahlian dasar yang diperlukan untuk
menjalankan fungsi sebagai mahluk individu dan mahluk social
5.
Adaptability– mampu beradaptasi dan beradopsi dengan berbagai perubahan
yang terjadi sejalan dengan dinamika kehidupan
6.
Self-Direction– memiliki arah serta prinsip yang jelas dalam usahanya untuk
mencapai cita-cita sebagai seorang individu
7.
Accountability– kondisi di mana seorang individu memiliki alas an dan dasar
yang jelas dalam setiap langkah dan tindakan yang dilakukan
8.
Social Responsibility– memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan
kehidupan maupun komunitas yang ada di sekitarnya
9.
Personal Productivity– mampu meningkatkan kualitas kemanusiaannya melalui
berbagai aktivitas dan pekerjaan yang dilakukan sehari-hari.
Sadar akan tingginya tuntutan
“penciptaan” SDM, maka sistem serta model pendidikan pun harus mengalami
transformasi. Telah banyak literatur yang merupakan buah pemikiran dan hasil
penelitian yang membahas mengenai hal ini, bahkan beberapa model pendidikan
yang sangat berbeda telah diterapkan oleh sejumlah sekolah maupun kampus di
berbagai belahan dunia. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dideskripsikan
sejumlah ciri dari model pendidikan di abad 21 yang perlu dicermati dan
dipertimbangkan.
Empat Prinsip Pokok Pembelajaran Abad ke-21
Keempat prinsip
pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols tersebut
dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
1.
Instruction should be student-centered
Pengembangan pembelajaran
seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa
ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat
dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan
menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi
pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat
perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah
nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran
berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa
sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai
fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior
knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan
dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan
gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas
proses belajar yang dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai
pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam
proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
2.
Education should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk
bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang
berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali
informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi
dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu
dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta
bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga, sekolah (termasuk
di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan
(guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan
penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya.
Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar
menjadi lebih baik.
3.
Learning should have context
Pembelajaran
tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di
luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang
memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru
membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang
sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan
dunia nyata.
4.
Schools should be integrated with
society
Dalam upaya mempersiapkan siswa
menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat
memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya,
mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil
peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat
dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti:
program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu,
siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan
empati dan kepedulian sosialnya.
Sedikit sharing pak hendri Sebagai pendidik di abad ke 21 seorg guru dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi dan mampu memposisikan diri sebagai pembelajar seumur hidup, guru juga harus ikut berkembang sebagaimana siswa dan tidak berhenti meningkatkan kompetensi profesional dibidangnya, guru harus bisa mengajar dengan langkah2 saintifik yg telah berkembang, terimakasih
BalasHapusbaik, terimakasi. artinya disini kolaborasi antar keduanya sangat diperlukan, melihat dari hubungan keduanya dalam pendidikan.
HapusTolong bro.. Tulisanya jangan di warnai..
BalasHapusTerimakasih masukanya, sangat mebangun... salam edukasi ... salam SMA muaro jambi pak
HapusAssalamualaikum wr.wb
BalasHapusUlasan yang menarik.
Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 3.
Pembelajaran sains di era abad 21 sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri) dengan pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thingking) dan berpikir kritis (critical thingking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi. Pendidkan sains juga harus mampu berkembang dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan teknologi yang selaras dengan nilai dan budaya-budaya yang ada didalam masyarakat.
Terimakasih... artinya disini dimaksud adalah penerapan student centre memang sangat perlu, untuk membangun yang kreatif, kritis, inovatif
HapusYg harus disiapkan guru menyongsong abad 21 adalah
BalasHapus1. Guru harus kompeten dan profesional dalam mengajar
2. Menguasi TIK
3. Guru harus memahami berbagai strategi, pendekatan dan model pembelajaran yg sesuai dng abad 21
4. Guru sbg fasilitator krn pembelajaran berpusat pd siswa
5. Guru harus mampu mengembangkan sikap kritis siswa
6. Yg tak kalah penting adalah sapras yg menunjang seperti komputer yg terhubung dengan internet.
Terima kasih
Terimaksih jawabanya, artinya disini guru sebagai media awal yang mempersiapkan segala sesutunya, dimaana kebijakan tindknya akan menentukan kevakapanya dalam mengolah siswa dan kelas. Lantas ketika semua ini telah dilakukan apakah akan berhasil sebuah pendidikan itu bu?
HapusAssalamualaikum wr.wb menurut pendapat saya pendekatan saintifik sesuai dengan tuntutan abad 21 yang terdapat dalam kurikulum2013
BalasHapusBaik terimakasih, bagamana penerapanya sesuai prinsip pokok pembelajaran abad 21?
HapusTerima kasih ulsanya.. menurut saya hal yg harus d siapkan dalam pembelajran abad 21 berdasarkan prinsip nya sebgai pendidk, kita bisa mngajrkan siswa mencari informasi terlebih dahulu sblm pembelajran inti d mulai. Disana kita melibatkan siswa secara berkolompok untk mencari informasi yg d btuhkan dan slanjtnya guru membimbing siswa untk mengkait dgn kehidupan sehari-hari siswa. Dan pendidik d tuntut untk peka dgn keadaan siswa dan membuat plajran yg menyenangkan. Sekian..
BalasHapusTerimakasih jawabanya, disini artinya saudari melihat kecakapan dari guru sebagai fasilittor?
HapusSaya akan menjawab pertanyaan no.1
BalasHapusmenurut saya yang harus disiapkan pendidik adalah guru harus kreatif dan inovatif agar dapat memberikan pembelajaran yang terus berkembang dan mengoptimalkan teknologi yang merupakan ciri pembelajaran abad 21bahkan sekarang teknologi bukan hanya sebagai pilihan tapi menjadi keharusan.
Terimakasih jawabnaua, berati disini keharusan dalam menguasain iptek sangat di haruskan? Nah bagaimana dalam prosen pencapaianya saat ini?
HapusJika kita tinjau dari kondisi peserta didik saat ini pendekan yang lebih tepat digunakan adalah pendidikan karakter.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Baik terimaksih, lantas bagaimana penerapanya sesuai dengan konsep pokok pembelajaran di era digital ini?
HapusAsssalamualaikum wr wb.
BalasHapusMenurut saya pendekatan yang tepat digunakan pada pembelajaran abad 21 adalah pendekatan saintifik. Dimana Pendekatan saintifik diusung oleh Kurikulum 2013. Langkah-langkah pada pendekatan saintifik merupakan bentuk adaptasi dari langkah-langkah ilmiah pada sains. Dimana pendekatan ini dekat dengan pembelajaran sains di era abad 21 yang dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri).
Terimakasih, bagaimana dengan pelaksanaanya? Apakah telah sesuai dengan teori saintifik?
HapusTerima kasih atas ulasan materinya. saya coba untuk menjawab soal nomor 1 terkait apa yang harus dipersiapkan sebagai pendidik dalam pembelajaran sains pada abad 21. adapun yang harus dilakukan yaitu 1. seorang pendidik memiliki empat (4) kompetensi yakni kompetensi profesional, kompetensi pedaqoqik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial 2. pendidik mampu mengunakan teknologi informasi/melek IT 3. pendidik memiliki semangat juang dan etos kerja serta qualitas keimanan ke taqwaan kepada tuhan yang maha esa 4. pendidik harus mampu memfasilitasi dan mampu menginspirsi belajar dan kreatifitasi siswa
BalasHapusTerimakasih pak, sangat jelas kompetensi guru yang harus di miliki
HapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 3. Pendekatan apa yang tepat dalam pembelajaran abad 21?
BalasHapusSesuai dengan model pembelajaran abad 21, pendekatan yang paling tepat adalah pembelajaran yang berpusat ke siswa (student centered).
Terimakasih... studencentered dalam praktiknya bagaimanakah?
HapusSaya akan menanggapi pertanyaan sdr.Hendri yg no.1 yaitu: Apa yang harus anda disiapkan sebagai pendidik terhadap pembelajaran sains bedasarkan prisip pokok pemebelajaran abad 21?
BalasHapus-hal yang utama dipersiapkan adalah kemampuan guru, baik dalam menguasai tekhnologi maupun memilih secara kreatif dan inovatif mengenai model pembelajaran apa yang akan diterapkan yang sesuai dengan pembelajaran abad 21. Guru harus terus meningkatkan kemampuannya agar bisa menyesuaikan dengan tuntutan zaman dan pola pikir siswa terkini, guru harus terus belajar mengenai tekhnologi mutakhir,tekhnologi itu bukan lagi sebagai additional,melainkan keharusan/wajib.
Terima kasih
Artinya kecakapan guru dalam memilih sangat diperhatikan supaya siswa teerlayani dengan baik
Hapusmenurut pendapat saya pendekatan yang tepat digunakan pada abad ke 21 ini sudah tepat di gunakan oleh kurikulum indonesia yaitu pendekatan saintifik dimana siswa dituntut mampu berkreatif, berpikir ilmiah serta berpikir kritis.kemudian selaian itu pendekatan konstruktivisme juga cocok digunakan karena merujuk kepada siswa,dimana siswa dituntuk berperan aktif dan mampu menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman sehari hari
BalasHapusTerimakasih, semua ulasan diatas berbanding lurus kah dengan praktik nya?
Hapusmerujuk pada pertanyaan No 3.
BalasHapusPendekatan yang tepat dalam pembelajaran abad 21, sesuai dengan keadaan dilapangan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah terus mengupayakan agar lembaga pendidikan mampu mengatasi tantangan zaman. salah satunya adalah dengan melakukan pendekatan dalam berbagai aspek. Salah satunya adalah melakukan pendekatan pada proses pembelajaran, yakni pendekatan saintifik.
Terimaksih, artinya penyesuaian pendekatan harus di perhatikan y
Hapusterimakasih ulasannya,.ingin ikut berdiskusi mengenai pendekatan apa yang pas untuk menyongsong pembelajaran abad21, menurut saya pemerintah telah memorsikan pendekatan yang pas untuk k13 sebagai bentuk menerapkan pembelajaran abad 21 yaitu pendekatan saintifik. terimakasih
BalasHapusOke terimakasih, kesesuain itu berjalankah sesuai prakteknya?
HapusAssalamualaikum saya akan menjawab pertanyaan nomor satu, menurut pendapat saya apa saja yang di siapkan yaitu pengetahuan untuk mengikuti perubahan yang ada, sehingga tugas guru memang betul2 mempelajarinya sehingga mampu menyesuaikan..
BalasHapussalah satu persiapannya guru mampu menoperasikan teknologi dan siap untuk ikut pelatihan yg akan di sediakan pemerintah dengan sungguh2.. terima kasih
Walaikumsalam... baiklah, itu beberapa hal yang harus diperhatikan, namun bagaimana pemerataan pelatihan2 yang saudari dlsebutkan, mksud nya hingga pelosok?
HapusPendekatan yang tepat dalam pembelajaran abad 21?
BalasHapusAda beberapa pendekatan pendidikan di abad 21 yang mungkin dilaksanakan di sekolah atau perguruan tinggi dengan menggunakan beberapa pendekatan , yaitu; pendekatan keteladanan, pendekatan berbasis kelas, pendekatan kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler, pendekatan kultur kelembagaan dan kultur akademik, pendekatan berbasis komunitas, dan dukungan kebijakan pendidikan yang relevan.
Artinya beberapa pendekatan bisa di terapkan, namun telah sesuai dengan konsep 21 ini ?
HapusPada k13 menggunakan model pembelajaran problem based learning, project based learning, inquiry dan model sejenis lainnya yg telah menggunakan pendekatan saintifik yg lebih fokus kepada perkembangan pola berpikir siswa, swhingga pembelajaran di sekolah mampu menjadi bekal bagi siswa dalam kehidupannya bermasyarakat
BalasHapusAssalamualaikum,
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan nomr1.
Terkait apa2 saja yang perlu disiapkan,
- Ialah yang utama mental, kita harus menperaiapkan mental dengan baik agar diri kita memiliki kesiapan dalam membelajarkan pada abad 21.
- Kecakapan keterampilan dalan berbagai kemajuan-kemajuan yang ada pada abad 21, seperti mampu menjalankan alat komunikasi lebih baik, Memiliki pengetahuan mengenai teknologi.
Memiliki inovasi dalam mbelajarkan.
Menyususn perencanaan sesuai tujuan capaian-capaian yang diharapkan.